Facebook

Thursday, November 17, 2016

KAIDAH EMAS

Sahabat, pernahkan mendengar sebuah istilah 'Kaidah Emas' ?

Kaidah emas adalah suatu sikap yang mengharuskan kita untuk beradaptasi dengan kebudayaan (orang) lain, agar mereka menerima kita seperti yang kita inginkan. Kaidah emas menyuruh kita memperlakukan orang lain seperti kita ingin di perlakukan oleh mereka. Atau dengan kata lain "Berperilakulah sebagai mana engkau ingin diperlakukan."

Kaidah emas bisa digunakan sebagai teknik mirroring' atau bercermin diri, dalam menentukan suatu perbuatan. Mirroring dapat diartikan sebagai suatu penyelarasan. Dalam hal ini penyelarasan antara keinginan kita dengan keinginan orang lain.

Kaidah emas dijadikan pula sebagai sebuah tolok ukur. Yaitu tolok ukur agar kita dapat menentukan apakah sesuatu hal adalah hal yang baik atau buruk. Sehingga kita dapat melakukan atau menghindari suatu perbuatan2 tersebut, dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya contoh kasus menegur anak di depan umum. Apakah hal itu sebagai perbuatan baik atau buruk? Maka cobalah berpikir, jika kita ditegur ayah/ibu kita di depan teman2 kita, akan malu dan marahkah kita?

Jika hal tersebut membuat kita malu dan marah, dapat diartikan bahwa perbuatan menegur anak di depan umum adalah sesuatu yang negatif dan patut dihindari. Maka janganlah dilakukan. Carilah solusi yang membuat anak tetap nyaman saat ditegur. Misalnya, dengan memanggil mereka ke suatu tempat, yang jauh dari keramaian, sehingga ia dapat menerima dengan hati yang cukup nyaman.

Contoh kasus lain, seperti menuntut gaji diluar batas kemampuan perusahaan. Apakah itu sebuah perbuatan baik/wajar, atau buruk, sehingga mesti kita hindari? Marilah berpikir kembali. Jika kita menjadi seorang pemilik usaha (owner) UMKM, yang sudah mati2an mengupayakan agar usaha tetap berjalan. Dan karyawan yang hidupi terus menerus menuntut tanpa pernah melihat kondisi perusahaan. Bagaimana rasanya kita sebagai owner? Sedihkah? Bingungkah? Marahkah?

Jika kita seakan merasakan hal2 negatif tersebut, maka dapat diartikan bahwa menuntut tanpa perhitungan adalah suatu perbuatan negatif yang perlu kita hindari. Carilah solusi lain, yang dapat membuat nyaman semua pihak. Bisa jadi kita melakukan diskusi dengan owner untuk bersama2 meningkatkan penjualan, atau hal2 yang baik lainnya.

Kasus lain yang sering dilakukan adalah membandingkan seseorang dengan orang lain yang kita anggap lebih baik. Misalkan, kita membandingkan anak kita dengan anak teman kita yang lebih terlihat sukses. Maka coba kita berpikir jika itu terjadi pada kita, dibandingkan dengan orang lain oleh orangtua kita sendiri. Bagaimana rasanya?

Bisa jadi kita akan kecewa, sedih, marah, kesal, bahkan ada pula yang dendam, naudzubillah. Jadi, jelaslah membanding2kan seseorang dengan orang lain adalah perbuatan yang akan membawa dampak negatif. Sehingga tak semestinya kita dilakukan.

Yuk, mulai saat ini kita lebih berpikir saat ingin melakukan suatu perbuatan. Pikirkan dahulu apakah hal tersebut baik atau buruk. Dan dengan melakukan 'kaidah emas' diharapkan kita memiliki tolok ukur yang bijak dalam menentukannya.

So, sahabat, teruslah berbuat baik. Teruslah berpikir untuk menciptakan kebaikan. Dan gunakanlah 'kaidah emas' sebagai alat pencipta kebaikan-kebaikan selanjutnya, yang akan membawa kita mendapatkan ridho memasuki surgaNya, Insya Alloh.
Wallahu 'alam.

Reni. K. Ashuri
Sharia Financial and Business Coah

0 Comments:

Post a Comment