Facebook

Saturday, February 15, 2014

Budaya Konsumtif Masyarakat Post Modern (bagian 1)

Dalam perkembangannya, masyarakat Indonesia mengalami era perubahan dari masyarakat modern menuju masyarakat post modern. Era masyarakat post modern selain ditandai dengan munculnya masyarakat yang bergantung pada informasi juga berkembang menjadi masyarakat konsumsi. Hal ini ditandai dengan perkembangan gaya hidup masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif untuk membeli berbagai barang atau komoditas.

Di era post modernisme, masyarakat membeli barang dan jasa bukan sekedar nilai manfaatnya atau karena terdesak kebutuhan, melainkan dipengaruhi sebuah gaya hidup konsumtif  yang didorong gengsi agar tidak disebut ketinggalan jaman atau sebagai tanda dari status sosial seseorang. Gaya hidup masyarakat ini tidak lepas dari peranan kaum kapitalis yang memang sengaja menciptakan sistem ekonomi dengan tujuan menghasilkan keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa memperhitungkan dampak buruknya terhadap kehidupan orang lain.

Gaya hidup masyarakat merupakan hasil budaya dari masyarakat yang merupakan refleksi dari seluruh sisi kehidupan masyarakat. Namun realita saat ini bahwa budaya Indonesia sangat didominasi oleh budaya kaum kapitalis. Budaya kaum kapitalis ini membawa masyarakat yang awalnya tradisional menjadi suatu budaya massa yang mengarah pada budaya masif konsumsi.

Sistem kapitalis membuat kebudayaan menjadi suatu tawaran kebudayaan yang penuh kesenangan, fantasi dan menghibur serta mampu mengembangkan imajinasi tanpa batas. Bagi kaum kapitalis, dengan memproduksi budaya konsumtif pada masyarakat massa akan mendongkrak omzet penjualan mereka dengan keuntungan sebanyak-banyaknya, sehingga mereka selalu merangsang tumbuhnya prilaku konsumen yang makin loyal dan adiktif. Dan hal ini makin tampak terlihat pada bulan Ramadhan, dimana semua kalangan masyarakat seakan-akan mengumbar nafsu konsumtifnya dengan berbelanja secara berlebihan, terutama setelah mendapatkan THR. Bahkan tabungan hasil kerja setahun seakan hilang habis untuk belanja di bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran, sungguh suatu kenyataan yang bertolak belakang dengan esensi puasa di bulan Ramadhan.

Sejatinya, pembentukan budaya dalam suatu masyarakat awalnya didasarkan pada nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat itu sendiri. Budaya awal atau tradisional masyarakat biasanya dibangun dari nilai-nilai adat dan agama yang berkembang di masyarakat.

Di Indonesia sendiri, pada awalnya budaya masyarakat tradisional merupakan cerminan dari nilai-nilai luhur adat ketimuran yang mempunyai etika dan norma yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai santun dan kebaikan. Salah satu nilai yang diambil untuk membentuk kebudayaan di Indonesia adalah nilai agama. Sayangnya, dengan semakin berkembangnya jaman, masyarakat tidak memegang teguh nilai-nilai budaya tradisional. Semakin lama masyarakat terbuai dengan budaya baru, yaitu budaya yang diciptakan oleh kaum kapitalis yang sama sekali jauh dari nilai-nilai kebaikan dan nilai-nilai keagamaan.

Karena itu diperlukan suatu kajian khusus untuk membahas fenomena dikotomi budaya dan agama ini agar didapatkan solusi untuk pemecahan masalah. Kajian filosofi ekonomi Islam dirasa  perlu untuk membuka wawasan masyarakat tentang dasar-dasar pembentukan budaya yang menjadi akar dari gaya hidup sebuah masyarakat atau negara. (bersambung ke bagian 2)

*pernah diterbitkan detikramadan di http://ramadan.detik.com/read/2013/07/09/071037/2296370/1522/budaya-konsumtif-masyarakat-post-modern–1-?r771108bcj